Update setiap saat

informasi cepat dan tanggap

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jadikan Informasi dalam Genggaman

Bekerja sepenuh Hati

Berita Unik Menarik

Hanya di Worldnewsdodi.com

MENYAJIKAN BERITA TERUPDATE

memberikan Berita Artikel terupdate setiap saat

Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Monday, April 6, 2015

Agama-Agama yang Baru Diketahui

Agama adalah salah satu hal yang cukup penting dan merupakan sebuah hal yang bersifat pribadi karena berhadapan dengan kepercayaan. Ada sejumlah agama di dunia yang kita ketahui dan agama ini adalah seperti Islam, Kristen, Budha, Hindu, Tiongkok dan juga agama besar lainnya. Namun hal ini akhir-akhir ini juga bermunculan beberapa agama yang ada di dunia dan baru diketahui karena sebelumnya belum pernah dikenal. Berikut ini akan kami sampaikan beberapa agama yang baru diketahui.

1. Agama Eckankar 

Agama yang pertama yang merupakan agama baru yang baru diketahui adalah sebuah agama yang bernama Agama Eckankar. Agama ini dibuat dan dididirikan oleh seorang pria asal Amerika Serikat bernama John Paul pada tahun 1965. Agama Eckankar ini adalah agama yang mempercayai adanya Tuhan yang disebut dengan sebutan Eck. Dan menurut agama ini, beberapa orang di dunia ini akan mengalami reinkarnasi menjadi seseorang yang lain yang nantinya akan mencapai keadaan yang tertinggi. Selain itu, adanya ritual meditasi ini juga ada di agama ini dan dipercayai bahwa orang yang berhasil meditasi khususnya yoga akan mencapai keadaan spiritual yang lebih tinggi dan bisa menyamai Tuhan Eck.

2. Agama Mazdakisme


Dibuat sekitar 600 tahun sebelum masehi, bisa dikatakan bahwa agama ini termasuk dalam agama yang tua di dunia. Agama ini dibuat oleh seorang pria asal Iran yang bernama Mazda yang menyebarkan ajaran berkaitan dengan kehidupan di bumi. Menurut agama Mazdakisme ini, seseorang perlu untuk melakukan kegiatan bersama dan saling gotong royong untuk mendapatkan sebuah hal yang positif. Menekankan pada sebuah usaha untuk meningkatkan kesejahteraan sosial membuat agama Mazdakisme ini adalah agama yang baik. Namun dalam prakteknya, agama ini justru membuat masalah dengan orang kaya yang menganggap bahwa yang dimiliki oleh orang kaya juga dijadikan sebagai milik bersama.

3. Agama Cheondogyo

 

Kali ini kita akan membahas sebuah agama yang ada di Korea dan menjadi salah satu agama tua yang baru diketahui. Agama yang bernama Agama Cheondogyo ini adalah agama yang cukup unik karena menitik beratkan akan adanya Tuhan yang satu yang ada di setiap diri manusia yang ada dan manusia tersebut harus bertingkah dengan baik dan juga cerdas untuk bisa menghadirkan surga di dalam dirinya sendiri tersebut. Hal inilah yang menjadi sebab bahwa agama ini bernama Cheondogyo yaag dalam bahasa Indonesia berarti jalan menuju surga. Agama ini meskipun menjadi salah satu inspirasi bagi agama yang banyak dianut sekarang, namun agama ini termasuk dalam agama yang baru diketahui.

4. Agama Cao Dai


Agama berikutnya yang termasuk dalam agama yang baru dikenal adalah agama yang berasal dari Vietnam bernama Agama Cao Dai. Agama ini adalah agama yang menggabungkan beberapa ajaran agama tertentu untuk bisa menuju ke akhir yaitu ke nirwana. Agama ini adalah agama yang memiliki arti tempat tertinggi yaitu tempat dimana Tuhan berada dan segala hal yang ada di agama ini adalah petunjuk langsung dari Tuhan kepada umatnya. Hingga kini pengikut agama Cao Dai ini sudah ada sekitar enam juta orang yang aktif.

=>

Benda-Benda Nabi Muhammad yang Masih Tertinggal

Nabi Muhammad seperti yang kita ketahui adalah seorang Nabi besar yang dimiliki oleh Muslimin dan menjadi suri tauladan bagi umat Muslimin. Nabi Muhammad ini berhasil membawa masuk agama Islam di dunia. Banyak peninggalan yang didapatkan dan diturunkan oleh Nabi Muhammad ini seperti adanya ajaran-ajaran dan juga beberapa tingkah laku yang wariskan. Tidak hanya itu, namun juga ada benda-benda yang merupakan peninggalan Nabi Muhammad yang ada banyak di dunia. Namun hal yang tak kalah unik adalah dengan adanya beberapa benda yang termasuk organ Nabi yang masih ada hingga sekarang. Berikut ini akan kami sampaikan beberapa benda Nabi Muhammad yang masih tertinggal.

1. Cetakan Telapak Kaki

Benda pertama dari Nabi Muhammad yang masih tertinggal di dunia adalah adanya cetakan telapak kaki Nabi. Hal ini adalah hal yang cukup menghebohkan karena setiap apa yang menjadi kepunyaan Nabi Muhammad ini pastinya merupakan hal yang sangat langka dan dibutuhkan untuk beberapa pelajaran. Hal ini jugalah yang terjadi pada cetakan telapak kaki ini. Ada beberapa cetakan telapak kaki yang diduga sebagai cetakan telapak kaki Nabi ini, namun cetakan yang paling mendekati kebenaran adalah yang ada di museum Turki yaitu Topkapi. Hal ini bisa dibuktikan benar sesuai dengan data dan bukti yang cukup akurat.

 2. Gigi

 

Penemuan gigi yang diduga adalah gigi Nabi Muhammad ini adalah sebuah penemuan yang cukup menggemparkan. Gigi ini ditemukan oleh beberapa ahli di Gunung Uhud dan ditemukan sebanyak dua gigi. Hal ini sesuai dengan cerita Nabi yang mengalami kehilangan sekitar gigi saat perang Uhud di Gunung Uhud. Dikatakan pada cerita Nabi Muhammad dan pasukannya ini telah dikalahkan oleh musuh karena banyaknya tentara yang tidak mendengarkan saran Nabi Muhammad. Hal inilah yang mendasari adanya penemuan gigi di Gunung ini dan diduga gigi ini adalah gigi Nabi Muhammad yang tertinggal.

3. Jenggot

 

Seperti yang kita ketahui bahwa jenggot adalah salah satu rambut yang sengaja dipanjangkan oleh Nabi Muhammad dan juga menjadi salah satu tanda umat Islam. Meskipun jenggot Nabi Muhammad ini adalah jenggot yang sangat panjang, namun Nabi dengan teratur memotong jenggotnya ini untuk kerapian dirinya sendiri. Bahkan Nabi memiliki tukang cukur jenggot pribadi yang bernama Salman dan setiap selesai mencukur jenggot ini, Salman mengumpulkan jeggot dan salah satunya adalah yang ada di salah satu museum Topkapi di Turki yang diletakkan dalam botol kaca.

4. Helaian Rambut

Benda selanjutnya yang merupakan benda Nabi Muhammad yang masih tertinggal ini adalah helaian rambut Nabi Muhammad. Seperti yang diceritakan, Nabi Muhammad ini memiliki rambut yang tebal dan juga panjang hingga sebahu. Adanya masalah rambut seperti rambut rontok juga dialami oleh Nabi Muhammad ini,membuat setiap helaian rambut Nabi yang rontok ini diambil dan dikumpulkan oleh sebagian sahabat dan diletakkan di dalam tempat tertentu dan rambut ini yang hingga kini masih ada di sebuah museum di Turki meskipun sudah memutih.

Saturday, April 4, 2015

Allah Melaknat Bangsa Yahudi

Sungguh celakalah bagi orang-orang Yahudi. Sifatnya yang picik, kejam dan selalu membuat kerusakan hingga membuat Muslim merasa resah. Yahudi yang selalu ingin menang atas segala aspek dan ingin menguasai dengan strategi-strategi perniagaannya mampu menguasai dunia hampir setengah perniagaan dikuasai Yahudi.

Kita tahu bagaimana strategi yang dimiliki oleh Yahudi yaitu keutamaannya ialah dalam hal perniagaan. Sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka tentang perniagaan. Di akhir tahun di universitas, para penuntut di bidang niaga diharuskan melakukan proyek dan praktik dan hanya akan lulus jika nilainya 10 dan mendapatkan keuntungan sebanyak $US1juta!

Anda terperanjat? Itulah kenyataan, dengan rangkaian seluruh perniagaannya yang menjaring sepenuhnya oleh kongsi milik Yahudi. Maka tidak heran mereka dapat menguasai ½ perniagaan di dunia! Siapakah yang mencipta desain Levis yang terkini? Produk itu diciptakan dari Israel University.
Sungguh mengagumkan dan mengkhawatirkan bukan bagi kita umat Muslim?  Dari cara yang sudah lama ditanam dalam diri mereka, hingga menjadi kebudayaan dan identitas mereka ketika kecerdasan dan kepicikan hingga kekuasaan semata-mata menjadi tujuan mereka di bumi ini.

Maka dari itu Muslim harus berhati-hati dengan tindakan Yahudi yang menyesatkan ini. Bahkan ada hadist yang Allah SWT laknat 3 perkara soal perniagaan Yahudi.

Dari Ibnu Abbas dia berkata, “Saya pernah melihat Rasulullah SAW sedang duduk di dekat Ka’bah. Kemudian beliau mengangkat pandangannya ke langit, lalu tertawa, ‘Sesungguhnya Allah SWT telah melaknat orang Yahudi karena tiga perkara:

Allah SWT telah mengharamkan lemak, tetapi mereka menjualnya, dan memakan hasil penjualannya. Sesungguhhnya Allah SWT mengharamkan memakan sesuatu pada suatu kaum, maka Allah SWT mengharamkan pula memakan hasil penjualannya,” (Kitab Sunan Abu Dawud juz 3 hal 280).

Begitulah perkara yang harus kita jauhi, sebab perlakuan yahudi yang menyesatkan akan berdampak kepada keimanan dan segala aspek lainnya.

 link

Galau Karena Uang, Rejeki Sudah di Atur Allah

Allah Ta’ala adalah اَلرَّزَّاقُ (Ar-Razzaq [Yang Banyak Memberi rezeqi]) karena اَلرَّزَّاقُ merupakan bentuk mubalaghah (penyangatan) dari kata اَلرَّازِقُ (Pemberi rezeki), maka ini menunjukkan kepada makna banyak. Yaitu menunjukkan banyaknya rezeki yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya dan juga menunjukkan banyaknya hamba-hamba-Nya yang mendapatkan rezeki tersebut.


Sehingga اَلرَّزَّاقُ  (Ar-Razzaq) artinya Yang Banyak Memberi rezeqi. Dia memberi rezeki yang satu kemudian rezeki yang lain dalam jumlah yang sangat banyak untuk seluruh makhluk-Nya.
Setiap makhluk yang berjalan di muka bumi ini pasti diberi rezeki, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
“Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (Huud: 6).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata,
“Maksudnya, seluruh yang berjalan di muka bumi ini, baik dari kalangan manusia (keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam), maupun binatang, baik binatang darat maupun laut, maka Allah Ta’ala telah menjamin rezeki dan makanan mereka. Jadi, rezeki mereka dijamin oleh Allah” (Tafsir As-Sa’di, hal. 422).

Berarti kita harus meyakini bahwa rezeki kita sudah dijamin oleh Allah Ta’ala. Bahkan rezeki kita telah ditulis sebelum kita terlahir di dunia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Kemudian diutuslah Malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Rezeki yang telah ditulis untuk kita pasti akan sampai ke kita. Tidaklah mungkin satu suap makanan yang sudah menjadi jatah kita akan masuk ke mulut orang lain. Seseorang tidaklah akan mati jika masih ada satu butir nasi saja yang menjadi jatahnya belum ia makan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram” (HR. Ibnu Majah, dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya).

Seandainya sekarang seluruh manusia bersepakat untuk menghalangi rezeki yang yang telah Allah tetapkan untuk Anda, maka pastilah mereka akan gagal. Sebaliknya, sekarang seandainya seluruh manusia bersepakat untuk memberi Anda sesuatu yang tidak Allah tetapkan untuk Anda, maka pastilah mereka tidak akan mampu melakukannya.

“Ya Allah, tidak ada satupun yang mampu mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak pula ada satupun yang mampu memberi sesuatu yang Engkau cegah” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, serta yang lainnya).

Pemerintah Tajikistan Sebut Jilbab Pakaian Pelacur

MELAWAN sebuah kebebasan beragama di negara yang sebagian besar Muslim sejak kemerdekaan Uni Soviet pada tahun 1991, pemerintah sekuler Tajikistan baru-baru ini telah mengkritik orang-orang yang mengenakan jilbab, dan menghubungkannya dengan pakaian pelacur.


“Lihatlah pakaian ini, Anda bisa memakainya di sebuah pesta atau acara khusus, tetapi mereka (pemerintah) melarang pakaian ini,” kata salah satu pedagang mengatakan kepada EurasiaNet.org seperti dikutip Onislam Kamis (2/4/2015).

Serangan terhadap jilbab telah berulang setelah Presiden Tajikistan, Emomali Rahmon mengkritik wanita yang memakai jilbab adalah pakaian “asing”.

Menandai perayaan hari Ibu Nasional di Tajikistan tanggal 8 Maret lalu, Rahmon mengkritik melalui pidatonya bahwa cadar hitam berhubungan dengan Islam konservatif dan tidak diterima di Tajikistan.
Tiga hari setelah pidato itu, televisi pemerintah menyiarkan tayangan membeberkan kisah-kisah pekerja seks yang bersembunyi dibalik jilbab.

Wanita dalam tayangan televisi, sambil menutupi wajahnya mereka dengan kerudung, mengatakan bahwa mereka mendapatkan lebih banyak uang dengan mengenakan jilbab, dan jilbab membuat mereka lebih menarik bagi klien potensial.

Beberapa hari kemudian, inspektur pajak dan polisi Tajikistan melakukan sidak di pasar Sadbarg Dushanbe dan mengatakan kepada salah seorang pemilik toko yang menjual pakaian Islam untuk berhenti.

Salah satu pedagang mengatakan jika ia masih membuka tokonya akan dikenakan denda sekitar $ 1750.
“Saya tidak akan membayar denda ini. Bahkan tidak ada penjelasan resmi saya harus membayar.”
Sementara pedagang lainnya, Nasiba Kholmurodova menuturkan “Ketika saya menjual sesuatu, saya tidak tahu apa yang wanita akan lakukan dengan itu. Saya tidak mengatakan padanya untuk membeli jilbab dan menjadi seorang pelacur,”

Muslim Tajikistan menuduh Rahmon menjalankan sistem otoriter yang memaksa mereka untuk meninggalkan agama mereka.

“Ini adalah kehendak Tuhan. Kita tidak bisa dan tidak berhak untuk menolaknya,” kata Muso Akobirov seorang pekerja imigran yang melakukan perjalanan ke Rusia untuk bekerja musiman.
Akobirov mengeluhkan bahwa ia dan Muslim lainnya tidak memiliki suara dalam sistem otoriter Rahmon. Lebih lanjut  ia mengatakan bahwa jika ia atau teman-temannya mendebat pemerintah, maka akan dipenjarakan dan teroris diumumkan.

Sementara Pengacara HAM, Faiziniso Vokhidova berbagi pendapat yang sama, memperingatkan bahwa kampanye anti-jilbab pemerintah menghina jutaan muslim Tajik.
“Kami memiliki sebuah negara demokratis dan setiap orang memiliki kebebasan untuk memakai apa yang mereka pilih,” kata Vokhidova.

Link

Al-Quran Terbukti ada Sungai di bawah Laut

Seorang Oceanografer berkebangsaan Prancis, Jaques Yves Cousteau, telah mengungkap pertemuan dua laut yang tidak bercampur. Ia meneliti pertemuan Samudra Atlantik dan Mediterania yang tidak bercampur satu dengan yang lain.



Penelitian ini dilakukannya ketika melakukan eksplorasi di bawah laut. Ia menemui kumpulan mata air tawar yang tidak bercampur dengan air laut. ''Seolah-olah ada dinding yang membatasi kedua aliran air itu,'' ujarnya Cousteau.

Sang ilmuwan pun mencoba mempelajari ilmu kelautan untuk memecahkan misteri tentang fenomena ganjil tersebut, namun tak pernah membuahkan hasil. Ia pun menceritakan hal ganjil itu kepada seorang profesor Muslim. Terkejutlah Cousteau ketika sang profesor Muslim menceritakan bahwa fenomena itu telah dijelaskan Alquran 14 abad silam.

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” (QS Ar-Rahman:19-20)

"Dan Dialah (Allah) yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), yang satu tawar dan segar dan yang lainnya asin. Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus." (QS Al Furqan:53).


Terpesonalah Costeau mendengar ayat-ayat Alquran itu. Kekagumannya terhadap ayat suci Alquran itu melebihi kekagumannya akan pemandangan laut dalam yang pernah dilihatnya.

Menurut dia,  mustahil jika Alquran disusun oleh Muhammad SAW. Sebab, pada zaman itu belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Costeau pun dikabarkan masuk Islam secara diam-diam, atas kekagumannya pada Alquran yang mengungkapkan fenomena alam ini.

Jaques Cousteau meninggal Rabu 25 Juni 1997. Sayangnya, dengan kerahasian Islamnya, banyak orang terdekatnya yang tidak tahu. Ia dikabarkan dimakamkan di Katedral Notre Dame di Paris.

Inilah video kemukjizatan Alquran itu:  =========>Link 

Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis.

Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.

 Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia. Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ


Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut. Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan…”Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas. Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari Surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” Artinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut. Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu.

Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan…”Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas. Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut.

Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari Surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” Artinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.


Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam. Allahu Akbar…!

Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim.Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah Ingat Mati dan Membaca Al-Qur'an.”




Jika anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita, Mexico. Disana ada sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah “sungai” di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan.

sebagian sumber dari ini

Rahasia Langit di dalam Al Quran

Ada sesuatu yang hilang dari kehidupan masyarakat kota saat ini. Sesuatu yang hilang yaitu adalah keindahan langit, cahaya lampu-lampu kota telah merampas hak kerlip bintang-bintang di langit untuk menembus setiap qalbu. Sedangkan gedung-gedung yang tinggi menghalangi indahnya saat-saat matahari terbit yang penuh makna.



Mungkin hal itu adalah salah satu sebab kurang pekanya qalbu kita membaca ayat-ayat-Nya di alam. Padahal Allah SWT telah berulang kali mengingatkan kita melalui firman-firman-Nya yang menjelaskan tentang penciptaan langit dan siang dan malam itu terdapat tanda-tanda kebesaran-N
ya.



Seperti dalam surat berikut ini Allah berfirman:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." [QS. Ali Imran ayat 190-191]

Menurut salah satu riwayat, setelah ayat itu turun kepada Rasulullah SAW kemudian beliau menangis. Bilal yang menemuinya pada waktu subuh bertanya kepada Rasulullah, "Apa yang membuatmu menangis Ya Rasulullah?", kemudian menjelaskan bahwa pada malam itu turunlah ayat yang amat berat maknanya, sedangkan sedikit dari umatnya yang merenungkannya.

Mugkin banyak di antara kita yang sering membaca tasbih, tahmid, takbir dan tahlil, tetapi hanya sebatas formalitas zikir sesudah shalat. Sehingga fenomena yang kita lihat adalah mengejar kuantitas jumlah bacaan, bahkan kadang dengan pelafalan yang kurang sempurna.

Zikir sebenarnya tidak hanya di ucapkan sesudah shalat saja, tetapi berlaku sepanjang kehidupan kita. Namun sayang, suasana kota dan kesibukanlah yang terkadang membuat kita lalai untuk selalu berzikir kepada-Nya.

Apabila setiap hari Anda di hadapkan dengan suasana kota seperti kemacetan dan gedung-gedung tinggi yang mempengaruhi suasana hati, mungkin zikir akan terus terlupakan dan berganti dengan keresahan dan kejenuhan.

Beruntunglah bila kita masih bisa menikmati langit malam yang indah ini, matikanlah lampu luar untuk sesaat dan pandangilah langit yang bertabur bintang.

Bila daerah Anda tidak terlalu parah terkena dampak polusi cahaya, maka Anda dapat menyaksikan penampakkan galaksi bima sakti yang memiliki miliyaran bintang membujur di langit. Dan sesekali mungkin akan Anda dapat menjumpai meteor yang seperti bintang jatuh.

Dalam keheningan malam, ingatlah Allah. Renungkanlah ayat-ayat-Nya yang terlukis indah di langit. Ucapan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil pada saat itu akan lebih mendalam merasuk qalbu daripada ucapan yang hanya berpacu pada hitungan biji tasbih atau jari.

Di tengah keluasan langit, maka kita akan menyadari bahwa bumi kita ini hanyalah sebuah planet mungil di antara keluarga matahari. Sedangkan matahari hanyalah sebuah bintang kecil di galaksi bima sakti.

Karena, masih banyak sekali bintang-bintang raksasa yang ukurannya ratusan juta kali lipat ukurang matahari. Ilmu modern sendiri menyebutkan bahwa galaksi sendiri hanya dihuni oleh miliyaran bintang, gas dan debu yang merupakan bahan baku pembentuk bintang-bintang baru.

Sedangkan jumlah galaksi yang ada pada alam semseta ini tidak terhitung jumlahnya. Di dalam Al Quran dan Hadits, sering sekali kita menemukan ungkapan tentang langit, khususnya dalam ungkapan tujuh langit. Lalu apakah hakikat langit? apakah langit biru yang ada di atas sana?

Pengetahuan modern saat ini menyebutkan bahwa langit biru terbentuk hanya karena hamburan cahaya matahari yang disebabkan oleh partikel-partikel atmosfer. Di luar atmosfer bumi, warna biru tdak ada lagi, yang ada hanyalah warna hitam dan titik-titik cahaya bintang, galaksi dan benda-benda langit lainnya.

Allah SWT berfirman:

"Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." [QS. Al-Baqarah ayat 29]

Pada artikel sebelumnya yang berjudul Dimanakah Letak Tujuh Langit Itu? kita sudah mengetahui bahwa pemahaman bilangan tujuh dalam beberapa hal di dalam Al-Quran tidak selalu menyatakan eksak dalam sistem desimal.

Hingga makna tujuh lapis langit yang di gambarkan oleh para mufassirin lama apalagi dalam kisah Isra' Mi'raj mesti di kaji ulang. Konsep tujuh lapis langit selalu mengacu pada konsep geosentrik, yaitu yang menganggap bumi sebagai pusat alam semsesta yang di lingkupi oleh lapisan-lapisan langit.

Misalnya di langit pertama ada bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga disimpulkan sebagai yang paling dekat. Langit ke dua ditempati Merkurius (bintang Utarid). Venus (bintang kejora) berada di langit ke tiga.

Sedangkan matahari ada di langit ke empat. Di langit ke lima ada Mars (bintang Marikh). Di langit ke enam ada Jupiter (bintang Musytari). Langit ke tujuh ditempati Saturnus (bintang Siarah/Zuhal). Itu keyakinan lama yang menganggap bumi sebagai pusat alam semesta.

Di dalam Al-Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Contoh pada surat Al-Baqarah ayat 261, disana Allah menjanjikan:

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." [QS. Al-Baqarah ayat 261]


Daur Ulang dalam Evolusi Bintang


Di dalam Al-Quran Allah telah mengisyaratkan bahwa langit tercipta dari 'Dukhan', yaitu kabut. Allah SWT berfirman:

"Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati". [QS. Fuşşilat ayat 11]

Kini sudah di yakini tentang kebenaran ayat itu berdasarkan pengamatas secara visual, inframerah ataupun radio. Bintang-bintang lahir dari awan molekul, partikel-pertikel oleh gaya gravitasi runtuh ke intinya menjadi inti bintang.

Akibat rotasi gumpalan awan molekul, sebagian materi tidak jatuh ke intinya. Tetapi ke sekitar inti membentuk piringan, inti bintang itu mulai memanas tetapi masih diselimuti awan dan debu yang sangat dingin dibawah minus 200 derajat celcius.

Ibarat kepompong, inti bintang itu tidak terlihat dari luar. Yang terlihat dan teramati hanyalah selimut debunya, itupun hanya pancaran inframerah dan radio saja yang bisa terdeteksi.

Hembusan angin bintang lambat laun akan mengusir debu dan gas di sekitar bintang itu, yang terasa adalah piringan debu dan gas di sekitar equatornya.

Piringan gas dan debu itu di yakini sebagai cikal bakal planet. Dengan tersibaknya selimut debu, inti dari bintang akan mulai teramati secara visual meski masih tampak redup.

Kini diketahui banyak bintang yang masih memiliki piringan debu dan gas yang umurnya masih beberapa juta tahun. Matahari kita tergolong bintang remaja yang baru berumur 4,5 miliyar tahun.

Inti yang semakin panas itu akhirnya akan memunculkan reaksi fusi nuklir. Reaksi fusi nuklir inilah yang menjadi energi bintang termasuk matahari hingga akhirnya bersinar.

Angin bintang dan tekanan radiasi, pada akhirnya akan menyingkirkan debu-debu di piringan. Dan menyisakan planet-planet yang terbentuk dan sedikit debu-debu antar-planet.

Akhirnya, bintang pun akan mati. Akhir kehidupannya tergantung massa dan keadaan fisik bintang. Ada bintang yang mengembang lalu melepaskan materi-materinya ke angkasa.

Ada pula yang meledak yang disebut dengan supernova. Nah, materi-materi yang terlepas ke angkasa ini akan menjadi bahan dasar pembentukan bintang baru.

Begitulah Allah SWT mendaur ulangkan materi di alam ini.

Posisi Manusia di Alam Semesta


Bayangkanlah kita tinggal di planet bumi ini dan bandingkanlah dengan keluasan alam semesta. Sungguh sebenarnya kita ini kecil, manusia hanyalah makhluk yang sangat lemah di hadapan Allah ta'ala.

Saat ini telah di yakini bahwa bumi kita bukanlah pusat alam semesta seperti yang di yakini oleh orang-orang zaman dulu, bumi kita hanyalah satu planet kecil di tata surya.

Empat planet raksasa, Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus berukuran jauh lebih besar daripada planet kita. Jupiter bermasa sekitar 300x massa bumi, tetapi matahari yang merupakan bintang terdekat dan induk tata surya bermassa jauh lebih besar lagi, sekitar 300ribu kali massa bumi dan berukuran lebih dari 1juta kali besar ukuran bumi.

Gaya gravitasinya mampu menahan semua anggota tata surya yang terdiri dari sedikitnya 8 planet, 42 satelit, ratusan ribu asteroid, miliyaran komet dan tak terhitung bongkahan batu, logam atau es yang disebut dengan meteorit yang bertaburan di tata surya.

Sedangkan matahari hanyalah bintang kuning yang berukuran sedang. Ribuan bintang lagi, bisa kita lihat di langit yang di antaranya memiliki ukuran ratusan kali dari ukuran matahari.

Semuanya merupakan anggota yang menghuni galaksi kita, bima sakti. Galaksi kita di golongkan sebagai galaksi spiral, berbentuk seperti huruf S, dengan lengan tunggal atau majemuk.

Diameternya sekitar 100,000 tahun cahaya yang artinya dari ujung ke ujung akan di tempuh oleh cahaya selama 100,000 tahun. Tata surya kita berjarak sekitar 30,000 tahun cahaya dari pusat bima sakti dan mengorbit dengan kecepatan sekitar 200-300 km/s sekali dalam 200juta tahun.

Mungkin ada bintang yang ada di bima sakti yang memiliki tata planet, namun karena jaraknya yang sangat jauh maka sulit untuk menemukannya.

Dengan teropong besarpun bintang-bintang itu hanya akan terlihat seperti titik-titik cahaya. Jika kita menembus ke kedalaman langit lebih jauh lagi, mungkin kita akan menjumpai jutaan bahkan milyaran galaksi-galaksi lain.

Galaksi-galaksi itu bagaikan pulau-pulau yang saling berjauhan yang berpenghuni milyaran bintang pula. Keluasan langit itu juga di jelaskan di dalam Al-Quran:

"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu." [QS. At-Talaq ayat 12]

Tujuh langit bermakna benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, sedangkan tujuh bumi mengisyaratkan bahwa banyaknya planet lain di luar tata surya kita yang mungkin tedapat kehidupan.

Isyarat lebih nyata dapat kita jumpai dalam surat berikut:

"Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya." [QS. Ash-Shūraá ayat 29]

Usaha dalam mencari kehidupan di planet lain pernah dilakukan khususnya dalam mencari makhluk-makhluk cerdas. Beberapa pesawat antariksa seperti Apollo dan Venera di luncurkan untuk meneliti dan mencari tahu kehidupan di luar bumi.

Pesawat antariksa lainnya adalah Voyager I dan II yang saat ini mulai berada di tepian galaksi bima sakti pun belum menemukan tanda-tanda kehidupan di luar bumi.

Mereka di bekali informasi tentang posisi bumi, serta berbagai macam suara alam yang ada di bumi ini. Di harapkan pesawat-pesawat tersebut dapat bertemu dengan makhluk cerdas yang mampu menerjemahkan pesan tersebut.

Yang diharapkan nantinya akan ada peradaban lintas galaksi seperti imajinasi dalam film Star Trek, bukan lagi antar bangsa di bumi.

Namun hingga saat ini, wahana tersebut belum ada yang dapat menemukan keberadaan makhluk cerdas lain. Sehingga semua itu masih menjadi rahasia Allah SWT.

 .

Hukum Memakai Jimat Lengkap

pada Kali ini saya akan mengungkapkan Hukum Memakai Jimat dengan Lengkap,

jimat bukanlah sesuatu yang asing bagi peradaban manusia dari dulu hingga zaman modern saat ini. Di negara kita yang berlatar belakang kebudayaan animisme, jimat bukan merupakan suatu hal yang asing pada kehidupan sehari-hari masyarakat kita. Di negara maju pun tidak sedikit orang yang meyakini jimat yang dapat mendatangkan keberuntungan atau menghindarkan dari kesialan. 

Kita dapat melihat penggunaan serta pemujaan jimat telah memasuki kehidupan masyarakat kita sehari-hari. Jika ingin bertambah laku, pedagang di pasar akan minta ‘penglaris’ kepada ‘orang pintar’ untuk ditaruh pada lokasi dagangannya. Jika ingin rumah selamat dari bala bencana maka di pintu digantungkanlah ‘sesuatu’. Jika orang hamil ingin kondisi janinnya sehat dan selamat maka setiap pergi ke luar rumah dibawalah gunting. Jika bayi sudah lahir maka harus ditaruh sapu lidi di sekitarnya agar tidak terkena gangguan-gangguan makhluk halus. Jika seorang ingin kuat dan kebal senjata maka dipakailah jimat cincin, sabuk dan bentuk-bentuk lainnya. Bila ingin cantik dan luwes dalam pergaulan maka dipasanglah susuk di bagian tertentu tubuhnya. Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk lain.


Negeri ini menyimpan begitu banyak kekayaan, itu patut kita syukuri. Sayangnya, banyak kekayaan berupa jimat-jimat tradisional yang justru malah menyesatkan pemiliknya. Maklum, masyarakat kita masih banyak yang mencampuradukkan antara klenik dan akidah. Jimat lainnya, ada yang berupa penglaris dagang dan untuk menambah kesaktian. Jimat yang berupa tulisan disebut dengan rajah. Tulisan berikut akan memberikan contoh berbagai macam jimat dan rajah, serta membuktikan pula kesyirikan benda-benda tersebut.

Mengenal Tamimah

Tamimah pada asalnya digunakan untuk mencegah ‘ain, yaitu pandangan dari mata hasad (dengki). Dengan pandangan yang hasad, seorang anak bisa menangis terus menerus, atau lumpuh atau terkena penyakit. Untuk melindungi anak kecil dari penyakit ‘ain ini, di masa silam –zaman Jahiliyah- digunakanlah tamimah, yang bentuk pluralnya tamaa-im. Ketika  Islam datang, tamimah atau jimat semacam ini dihapus (Lihat Fathul Majid, 131).

Namun tamimah beralih digunakan lebih umum yaitu pada segala sesuatu yang digantung untuk mencegah ‘ain atau lainnya, baik berupa gelang, kalung, benang, atau ikatan. Ini semua disebut tamimah. Nah, kalau di sekitar kita, jimat dan rajah dengan berbagai macam bentuknya dengan berbagai macam penggunaan, itulah yang termasuk dalam tamimah.

Di sekeliling kita, tamimah dapat berupa keris untuk melindungi rumah misalnya, berupa benang pawitra untuk melindungi anak agar tidak terkena bahaya, dan berupa tulisan rajah yang dipasang di atas pintu masuk warung untuk melariskan dagangan.

Berikut contoh-contoh jimat dan rajah yang kami peroleh. Kadang jimat ini menjadi sarangnya jin, namun masih disimpan di rumah-rumah sebagai benda pusaka dan tujuan lainnya.





Dalil Larangan Jimat dan Rajah
 
Allah Ta’ala berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az Zumar: 38)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah –penulis Fathul Majid- berkata, “Ayat ini dan semisalnya adalah dalil yang menunjukkan tidak bolehnya menggantungkan hati kepada selain Allah ketika ingin meraih manfaat atau menolak bahaya. Ketergantungan hati kepada selain Allah dalam hal itu termasuk kesyirikan“ (Fathul Majid, 127-128).

Jimat dan rajah termasuk yang dimaksudkan dalam ayat yang mulia ini. Karena orang yang memakai jimat dan memasang rajah di dinding dan tempat lainnya, bermaksud untuk mendatangkan manfaat –seperti dagangannya laris atau agar penyakitnya sembuh- atau ingin menolak mudhorot (bahaya) –seperti menolak ‘ain (mata dengki) atau menolak wabah penyakit-.

Dari ‘Imron bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً أُرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ فَقَالَ « وَيْحَكَ مَا هَذِهِ ». قَالَ مِنَ الْوَاهِنَةِ قَالَ « أَمَا إِنَّهَا لاَ تَزِيدُكَ إِلاَّ وَهْناً انْبِذْهَا عَنْكَ فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِىَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَداً

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat di lengan seorang pria gelang yang dinampakkan padanya. Pria tersebut berkata bahwa gelang itu terbuat dari kuningan. Lalu beliau berkata, “Untuk apa engkau memakainya?” Pria tadi menjawab, “(Ini dipasang untuk mencegah dari) wahinah (penyakit yang ada di lengan atas). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Gelang tadi malah membuatmu semakin lemah. Buanglah! Seandainya engkau mati dalam keadaan masih mengenakan gelang tersebut, engkau tidak akan beruntung selamanya.” (HR. Ahmad 4: 445 dan Ibnu Majah no. 3531).

Al Hakim mengatakan, “Kebanyakan guru kami berpendapat bahwa Hasan Al Bashri mendengar hadits ini langsung dari ‘Imron (Lihat Fathul Majid, 128). Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz termasuk  ulama yang menyatakan bahwa sanad hadits ini jayyid, artinya tidak bermasalah (Fatawa Nur ‘ala Darb, 1: 383). Ulama lain mengatakan bahwa Al Hasan Al Bashri tidak mendengar hadits ini langsung dari ‘Imron, sehingga sanad hadits ini inqitho’ (terputus). Inilah pendapat Ibnu Ma’in, Ibnu Abi Hatim dan Ahmad. Oleh karenanya, hadits ini lemah, walaupun maknanya shahih (Lihat Syarh Kitabit Tauhid, 54). Yang mendho’ifkan hadits ini adalah Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiq Musnad Imam Ahmad dan Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Adh Dho’ifah no. 1029.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ اللَّهُ لَهُ
“Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada tamimah (jimat), maka Allah tidak akan menyelesaikan urusannya. Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada kerang (untuk mencegah dari ‘ain, yaitu mata hasad atau iri, pen), maka Allah tidak akan memberikan kepadanya jaminan” (HR. Ahmad 4: 154. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan –dilihat dari jalur lain-).

Dalam riwayat lain disebutkan,
مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad 4: 156. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy atau kuat. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 492).

Dalam tafsir Ibnu Abi Hatim (43: 179), dari Hudzaifah, di mana ia pernah melihat seseorang memakai benang untuk mencegah demam, kemudian ia memotongnya. Lantas Hudzaifah membacakan firman Allah Ta’ala,
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ
“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 106)

Begitu pula Waki’  pernah meriwayatkan dari Hudzaifah. Beliau pernah mengunjungi orang sakit. Lantas beliau melihat-lihat di lengan atas orang sakit tersebut dan mendapati benang. Hudzaifah pun bertanya,
“Apa ini?” “Ini adalah sesuatu yang bisa menjagaku dari rasa sakit tersebut”, jawab orang sakit tadi. Lantas Hudzaifah pun memotong benang tadi. Lantas Hudzaifah berkata, “Seandainya engkau mati dalam keadaan engkau masih mengenakan benang ini, aku tidak akan menyolatkanmu” (Fathul Majid, 132).

Lihatlah bagaimana sikap keras para sahabat bagi orang yang mengenakan jimat untuk melindungi dirinya dari sakit, dalam rangka meraih maslahat. Jimat tersebut sampai dipotong, walau tidak diizinikan. Dalam penjelesan di atas menunjukkan bahwa seseorang bisa berdalil dengan ayat yang menjelaskan tentang syirik akbar (besar) untuk maksud menjelaskan syirik ashgor (kecil) karena kedua-duanya sama-sama syirik (Lihat Fathul Majid, 132).

Jimat Benarkah Sebab yang Dibolehkan?

Orang yang memakai jimat jelas telah terjerumus dalam kesyirikan walau ia menyatakan bahwa jimat atau rajah hanyalah sebagai perantara atau sebab saja. Ia jelas keliru karena mengambil sebab yang tidak diperkenankan dan tidak terbukti secara syar’i dituntunkan atau secara eksperimen ilmiah benar-benar terbukti ampuhnya.

Berbeda halnya jika kita sakit, lalu kita meminum obat. Obat ini sudah terbukti secara eksperimen akan keampuhannya. Hal ini jauh berbeda dengan jimat dan rajah. Masa’ dengan memasang rambut dan tulang, bisa langsung menangkal musibah? Apa buktinya? Apa sudah pernah diuji kelayakannya di laboratorium atau lewat berbagai eksperimen? Itulah mengapa memakai jimat sebagai perantara atau sebab semata, sedangkan yakin Allah yang beri maslahat dan menolak mudhorot (bahaya) tetap masuk dalam kategori syirik. Lihat saja contoh-contoh yang dikisahkan dalam beberapa hadits di atas yang menjadikan benang, ikatan atau gelang supaya terhindar dari penyakit atau ‘ain. Itu pun tetap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam larang dan menyuruh disingkirkan atau dibuang. Demikian halnya perlakuan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam nantinya pada jimat penglaris dagang, jimat penolak ‘ain, jimat benang yang dikenal di kalangan orang jawa dengan ‘benang pawitra’ (untuk melindungi anak dari bahaya), semua akan diperintahkan untuk dibuang dan disingkirkan karena yang memakainya bermaksud mengambil sebab sebagai perantara padahal tidak terbukti secara syar’i, juga tidak terbukti secara eksperimen ilmiah.
Jadi intinya di sini dalam mengambil sebab untuk meraih manfaat atau menolak mudhorot (bahaya) harus memenuhi dua syarat:
  1. Sebab tersebut terbukti secara syar’i, ditunjukkan dalam dalil atau terbukti lewat eksperimen ilmiah.
  2. Ketergantungan hati hanyalah pada Allah, bukan pada sebab. Semisal orang yang mengambil sebab untuk sembuhnya penyakit dengan meminum obat, maka hatinya harus bergantung pada Allah, bukan pada obat, bukan pula pada ‘Pak Dokter’.
  3. Harus yakin bahwa ampuhnya suatu sebab adalah dengan takdir atau ketentuan Allah. (Faedah dari guru kami –Ustadz Abu Isa hafizhohullah- dalam kajian Kitab Tauhid)
Apakah Memakai Jimat Termasuk Syirik?
Memakai jimat memang termasuk kesyirikan, namun apakah termasuk syirik akbar ataukah syirik ashgor? Di sini para ulama memberikan rincian sebagai berikut:
  1. Jika yakin bahwa tamimah atau jimat bisa mendatangkan manfaat dan menolak bahaya (mudhorot), maka ini termasuk syirik akbar. Karena yang mendatangkan manfaat dan bisa menolak bahaya hanyalah Allah, bukanlah jimat.
  2. Jika yakin bahwa jimat hanyalah sebagai sebab untuk penyembuhan –misalnya-, maka ini termasuk syirik ashgor. Demikianlah keyakinan kebanyakan orang yang memakai jimat pada umumnya. (Lihat Syarh Kitabit Tauhid, 55)
Walaupun jimat dikatakan syirik ashgor (kecil), namun syirik tetap lebih parah dari dosa besar. Dan kita tetap harus waspada dari dosa syirik tersebut walaupun kecil karena Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS An Nisa: 48)

Dan waspadalah dengan kesyirikan karena syirik itu sangat samar dari jejak semut di atas batu hitam di tengah kegelapan malam.

Menggantungkan Hati pada Jimat

Mengapa dalam menyelesaikan masalah, ingin lepas dari musibah, ingin menangkal diri dari berbagai penyakit, seseorang malah mencari selain Allah sebagai tempat mengadu. Padahal Allah-lah yang Maha Mencukupi, Allah-lah yang Ghoni, Yang Maha Kaya dan Mencukupi segalanya. Sungguh aneh,

sebagian kita malah bergantung pada makhluk yang lemah, pada jimat yang bisa saja rusak dan punah, padahal ada Allah yang selalu mengawasi dan selalu menolong kita.

Dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Ukaim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ
“Barangsiapa menggantung hati pada sesuatu, urusannya akan diserahkan padanya” (HR. Tirmidzi
no. 2072 dan Ahmad 4: 310. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Barangsiapa menggantungkan hatinya pada jimat dan rajah, maka Allah akan menyerahkan urusan orang tersebut pada benda-benda tadi dan Allah akan menghinakannya. Beda halnya jika Allah yang dijadikan tempat bergantung. Jika seseorang bergantung pada Allah, maka urusannya akan diselesaikan oleh Allah, yang sulit akan menjadi mudah, dan yang jauh akan didekatkan. Jika Allah yang menjadi sandaran, maka sebagaimana disebutkan dalam ayat,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3). (Lihat Fathul Majid, 138)

Tawakkal, Itu Kunci Kemudahan

Bersandarnya hati Allah diikuti dengan melakukan sebab yang benar, itulah tawakkal dan itulah jalan meraih berbagi kemudahan dan kecukupan. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah ketika menjelaskan surat Ath Tholaq ayat 3 mengatakan, “Barangsiapa yang bertakwa pada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menyandarkan hatinya pada-Nya, maka Allah akan memberi kecukupan bagi-Nya.” (Tafsir Ath Thobari, 23: 46)

Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Barangsiapa yang menyandarkan diri pada Allah dalam urusan dunia maupun agama untuk meraih manfaat dan terlepas dari kemudhorotan (bahaya), dan ia pun menyerahkan urusannya pada Allah, maka Allah yang akan mencukupi urusannya. Jika urusan tersebut diserahkan pada Allah Yang Maha Mencukupi (Al Ghoni), Yang Maha Kuat (Al Qowi), Yang Maha Perkasa (Al ‘Aziz) dan Maha Penyayang (Ar Rohim), maka hasilnya pun akan baik dari cara-cara lain. Namun kadang hasil tidak datang saat itu juga, namun diakhirkan sesuai dengan waktu yang pas.” (Taisir Al Karimir Rahman). Masya Allah suatu keutamaan yang sangat luar biasa sekali dari orang yang bertawakkal.
Semoga Allah melindungi kita dan keluarga kita dari berbagai macam kesyirikan dan budaya jimat. Semoga Allah mematikan kita dalam keadaan bertauhid dan bersih dari syirik.

Adakah Hubungan Gerhana dengan Kedatangan Imam Mahdi ?

Pada hari ini akan terjadi gerhana matahari di beberapa wilayah di Bumi. Banyak pihak yang mengaitkan peristiwa alam ini sebagai salah satu tanda kiamat menjelang. Bagaimana dalam Islam?
Sejauh ini, baik dalam hadist atau pun Quran,belum ada keterangan yang umum soal gerhana matahari. Hanya dalam beberapa riwayat memang pernah disinggung perihal ini.

 

“Sebelum kemunculan Imam Mahdi, akan berlaku secara berturut-turut 2 gerhana pada bulan Ramadhan,” (Ibn Hajar Al haitami, Al Qaul Al Mukhtasar fi ‘alamat Al mahdi Al Muntazar)
“Akan ada dua gerhana matahari di bulan Ramadhan sebelum kedatangan Al Mahdi,” (Mukhtasar Tazkirah Qurtubi)

“Telah sampai kepadaku bahwa sebelum Al Mahdi datang, bulan akan gerhana dua kali di bulan Ramadhan,” (Diriwayatkan oleh by Abu Nu’aym dalam al-Fitan)

“Gerhana matahari di pertengahan bulan Ramadhan dan gerhana bulan di akhirnya,” (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi Alamat al-Mahdi Akhir al-zaman, hal. 37)

Sejauh ini, menurut berbagai data, gerhana bulan dan matahari pernah terjadi pada bulan Ramadhan pada tahun 1981 dan 1982.

Adapun gerhana matahari yang terjadi hari ini tentu saja merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT.

sumber

Hukum Jual Beli Air

Dalam Hadits Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ إيَاسِ بْنِ عَبْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، ﴿ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ فَضْلِ الْمَاءِ﴾ رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلاَّ ابْنَ مَاجَهْ وَصَحَّحَهُ 
التِّرْمِذِيُّ


“Dari Iyas bin Abdin ra, bahwa Nabi SAW melarang jual beli kelebihan air.” (HR. Khamsah, kecuali Ibnu Majah. Dan hadits ini di shahihkan oleh Imam Turmudzi)
HR Khamsah artinya, hadits diriwayatkan oleh 5 Imam Hadits, mereka adalah: Imam Ahmad, Turmudzi, Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah.

Hadits di atas diriwayatkan oleh Khamsah, kecuali Ibnu Majah, artinya hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Turmudzi, Abu Daud dan Nasa’i.
Namun bersamaan dengan riwayat tersebut, Imam Muslim dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits serupa (syahid) dengan sanad berbeda, yaitu dari Jabir bin Abdillah, bukan dari jalur Iyas bin Abdin Al-Muzani.
Hadits Lainnya

وَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلُهُ .(رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ) حَدِيثُ إيَاسٍ قَالَ الْقُشَيْرِيِّ هُوَ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَحَدِيثُ جَابِرٍ هُوَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ وَلَفْظُهُ لَفْظُ حَدِيثِ إيَاسٍ وَكَذَا أَخْرَجَهُ النَّسَائِيّ

“Dan dari Jabir ra, dari Nabi SAW (sebagaimana hadits sebelumnya).” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Adapun tentang hadits Iyas, Imam Qusyairi mengatakan bahwa hadits tersebut sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim. Sedangkan hadits Jabir ra merupakan hadits shahih Muslim, sementara lafazhnya adalah lafazh hadits Iyas. Demikian juga diriwayatkan oleh Imam Nasa’i.

Takhrij Hadits

Dari Jalur Iyas bin Abdin:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, hadits no 14897.
Diriwayatkan juga oleh Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Fi Bai’ Fadhli Maa’, hadits no 3017.
Diriwayatkan juga oleh Imam Turmudzi dalam Jami’nya, Kitab Al-Buyu’ an Rasulillah, Bab Ma Jaa’a fi Bai’ Fadhli Maa’, hadits no 1192
Diriwayatkan juga oleh Imam Nasa’i, Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ Fadhlil Maa’, hadits no 4583 dan 4584.
Dari Jalur Jabir bin Abdillah ra:
Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam Shahihnya, Kitab Al-Musaqah, Bab Tahrim Bai’ Fadhli Maa’ Alladzi Yakunu bil Falati, hadits no 2925.
Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah dalam Sunannya, namun bukan dari Iyas bin Abdin, melainkan dari Jabir ra, dalam Kitab Al-Ahkam, Bab An-Nahyi an Bai’ Maa’, hadits no 2468.
Demikian juga Imam Ahmad meriwayatkan hadits ini dari jalur Jabir bukan Iyas, dalam Musnadnya, hadits no 14117.

Syarah Hadits
1. Hukum Jual Beli Air

Imam Syaukani mengemukakan,
Bahwa hadits di atas menggambarkan tentang “haramnya” menjual kelebihan air, yaitu kelebihan air dari kebutuhan si pemiliknya.
Kelebihan air yang tidak boleh diperjualbelikan itu mencakup air yang berada di wilayah (tanah) umum, maupun di tanah yang dimiliki atau dikuasai baik oleh perorangan maupun kolektif.
Penjelasan:
Ulama sepakat, tentang haramnya hukum memperjualbelikan air yang terdapat dalam sumbernya, seperti yang berada di sungai, telaga, danau bahkan yang terdapat di dalam sumur. Kendatipun berada di bawah penguasaan pemiliknya.
Disebut sebagai kelebihan air, maksudnya adalah bahwa pemiliknya lebih berhak terhadap air yang terdapat dalam sumber air tersebut, namun ketika ia telah memenuhi kebutuhannya dan dapat dimanfaatkan oleh orang lain yang membutuhkannya, maka ia tidak boleh menjualnya kepada mereka.
Air tersebut boleh dimanfaatkan oleh orang banyak tanpa kompensasi seperti dalam jual beli (iwadh). Dan jika pemiliknya menjual air tersebut kepada orang yang mengambilnya, maka hukumnya haram dan pelakunya berdosa.

2. Hukum Membeli Lahan Yang Terdapat Sumber Air

Membeli lahan, atau tanah yang di dalamnya terdapat sumber air, adalah boleh. Dan pemiliknya boleh memanfaatkan air tersebut untuk keperluannya dan anggota keluarganya.
Hal ini sebagaimana terdapat riwayat tentang kisahnya Abu Thalhah yang memiliki tanah di dekat Masjid Nabawi yang memiliki sumber mata air, di mana Nabi SAW sering minum dari mata air tersebut:
عَنْ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ كَانَ أَبُو طَلْحَةَ أَكْثَرَ الْأَنْصَارِ بِالْمَدِينَةِ مَالًا وَكَانَ أَحَبَّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ بَيْرُحَاءَ وَكَانَتْ مُسْتَقْبِلَةَ الْمَسْجِدِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ فَلَمَّا نَزَلَتْ { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } قَامَ أَبُو طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ فِي كِتَابِهِ { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } وَإِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءَ وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ أَرْجُو بِرَّهَا وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللَّهِ فَضَعْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ حَيْثُ شِئْتَ فَقَالَ بَخٍ ذَلِكَ مَالٌ رَائِحٌ ذَلِكَ مَالٌ رَائِحٌ قَدْ سَمِعْتُ مَا قُلْتَ فِيهَا وَأَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الْأَقْرَبِينَ قَالَ أَفْعَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَسَمَهَا أَبُو طَلْحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ (رواه البخاري)

Dari Anas bin Malik ra berkata; Abu Thalhah adalah orang yang paling banyak hartanya dari kalangan Anshar di kota Madinah berupa kebun pohon kurma dan harta benda yang paling dicintainya adalah Bairuha’ (sumur yang ada di kebun itu) yang menghadap ke masjid dan Rasulullah SAW sering memasuki kebun itu dan meminum airnya yang baik tersebut. Berkata, Anas; Ketika turun firman Allah Ta’ala (QS Alu ‘Imran: 92 yang artinya): “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai”, Abu Thalhah mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai”, dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha’ itu dan aku menshadaqahkannya di jalan Allah dengan berharap kebaikan dan simpanan pahala di sisiNya, maka ambillah wahai Rasulullah sebagaimana petunjuk Allah kepadamu”. “Maka Rasulullah SAW bersabda: Wah, inilah harta yang menguntungkan, inilah harta yang menguntungkan. Sungguh aku sudah mendengar apa yang kamu niatkan dan aku berpendapat sebaiknya kamu shadaqahkan buat kerabatmu”. Maka Abu Thalhah berkata,: “Aku akan laksanakan wahai Rasulullah. Maka Abu Thalhah membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya”. (HR. Bukhari)

Namun larangan dalam hadits di atas lebih dimaksudkan pada memonopoli sumber air, untuk kemudian mengenakan “tarif” bagi orang-orang yang akan mengambil air di sumber air tersebut.
Hal tersebut pernah dilakukan oleh orang Yahudi, yang memiliki sumur di masa Usman bin Affan. Pada saat paceklik dan manusia tidak memiliki air, Yahudi tersebut tidak mengizinkan orang-orang mengambil air dari sumur tersebut, kecuali apabila mereka membayarnya.
Kemudian Usman bin Affan membelinya dan menyedekahkannya kepada seluruh kaum muslimin.

3. Larangan menjual kelebihan air apakah khusus air minum atau air untuk kebutuhan lainnya?

Imam Qurtubi berpendapat bahwa larangan tersebut secara zhahirnya dikhususkan bagi air yang dijadikan sumber air minum. Karena air minum merupakan kebutuhan pokok bagi manusia, yang manusia tidak dapat hidup tanpanya.
Namun sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud adalah air secara umum, tidak hanya khusus untuk air minum, yang berada di tempat sumber air dan menjadi kebutuhan manusia.
Pendapat kedua ini dikuatkan dengan hadits lainnya
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يُمْنَعُ فَضْلُ الْمَاءِ لِيُمْنَعَ بِهِ الْكَلَأُ (رواه البخاري)
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jangan kelebihan air ditahan, dengan maksud untuk menahan tumbuhnya tanaman.” (HR. Bukhari)

Bahkan dalam hadits lainnya disebutkan
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لاَ يُمْنَعُ فَضْلُ الْمَاءِ لِيُمْنَعَ بِهِ الْكَلأُ (رواه البخاري)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan kelebihan air ditahan, dengan maksud untuk menahan tumbuhnya tanaman.” (HR. Bukhari)
Jadi secara zhahirnya hadits ini menggambarkan bahwa larangan menjual air termasuk untuk memenuhi kebutuhan ternak dan bahkan pengairan tumbuhan.

Larangan menjual kelebihan air ini dikuatkan oleh Hadits Nabi SAW lainnya, di antaranya:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاَثَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ، رَجُلٌ كَانَ لَهُ فَضْلُ مَاءٍ بِالطَّرِيقِ فَمَنَعَهُ مِنْ ابْنِ السَّبِيلِ وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لَا يُبَايِعُهُ إِلَّا لِدُنْيَا فَإِنْ أَعْطَاهُ مِنْهَا رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطِهِ مِنْهَا سَخِطَ وَرَجُلٌ أَقَامَ سِلْعَتَهُ بَعْدَ الْعَصْرِ فَقَالَ وَاللَّهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ لَقَدْ أَعْطَيْتُ بِهَا كَذَا وَكَذَا فَصَدَّقَهُ رَجُلٌ، ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ اْلآيَةَ (إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلاً)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga jenis orang yang Allah Ta’ala tidak akan melihat mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka disediakan siksa yang pedih, yaitu seorang yang memiliki kelebihan air di jalan lalu dia tidak memberikannya kepada musafir, seorang yang membaiat imam dan dia tidak membaiatnya kecuali karena kepentingan-kepentingan duniawi, kalau dia diberikan dunia dia ridha kepadanya dan bila tidak dia marah, dan seorang yang menjual dagangannya setelah ‘Ashar lalu dia bersumpah; demi Allah Dzat yang tidak ada Ilah selain Dia sungguh aku telah memberikan (shadaqah) ini dan itu lalu sumpahnya itu dibenarkan oleh seseorang”. Kemudian Beliau membaca ayat ini: artinya (“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…”) (HR. Bukhari)

4. Menjual air yang sudah di kemas, atau sudah diangkut?

Adapun air yang sudah ada “usaha” dari pemiliknya, seperti air yang sudah dikemas dalam botol, atau sudah diisikan ke dalam galon, atau diangkut dengan menggunakan gerobak lalu diantar ke rumah-rumah, maka hukumnya adalah boleh untuk diperjualbelikan.
Karena sudah ada “usaha” dari pemiliknya dalam memprosesnya dan atau mengantarkannya ke rumah-rumah penduduk. Adapun jika ia menjual air untuk kemudian orang-orang mengambil sendiri di dalam sumur, di sungai atau di danau, maka hukumnya tidak boleh.
Menjual air inipun ada syaratnya terkait dengan sumber mata airnya. Yaitu di sumber mata air tersebut, pemiliknya tidak boleh melarang orang-orang mengambil dari sumber tersebut apabila akan digunakan untuk keperluan sehari-hari.
والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين

Keutamaannya Surat Al Kahfi

Di dalam surat Al-Kahfi ada empat kisah yang Allah SWT paparkan. Surat Al-Kahfi memiliki kedudukan istimewa karena surat ini dianjurkan untuk dibaca sepekan sekali (hari Jumat). Surat al-Kahfi dikaitkan dengan fitnah Dajjal, fitnah akhir zaman.

Kenapa surat Al-Kahfi dianjurkan oleh Nabi SAW untuk selalu dibaca? Sebetulnya, maknanya bukan sekedar dibaca, tapi ditaburi. Karena di dalam surat Al-Kahfi ini terdapat pelajaran (ibroh) dan ‘benteng’ yang melindungi kaum muslimin dari empat macam fitnah (yang terdapat dalam empat kisah yang dipaparkan). Fitnah yang akan terus ada sampai akhir zaman.
Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu,

“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum’at.” (HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249. Ibnul Hajar mengomentari hadits ini dalam Takhrij al-Adzkar, “Hadits hasan.” Beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits paling kuat tentang anjuran membaca surat Al-Kahfi. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’, no. 6470)

Kedudukan ‘membaca’ (mentadaburi) surat Al-Kahfi yang rutin tiap pekan mirip dengan kedudukan Khutbah Jumat yang tiap pekan. Periode rutinitas ‘pekanan’ ini adalah periode minimal seorang muslim mendapat bekal ilmu sebagai bekal agama dalam mengarungi kehidupan. Makanya dalam komunitas Tarbiyah, ada Liqo pekanan, sebagai bekal minimal kader.

Jadi dengan ‘membaca’ surat Al-Kahfi sepekan sekali, umat Islam diingatkan tentang empat macam fitnah agar tetap teguh dengan agama dan dakwahnya, tidak tergoda dan kalah dengan dunia , tidak takabur dengan keunggulan diri dan betapa Maha Kuasanya Allah , menggunakan Kekuasaan untuk kemaslahatan.

Dengan ‘ngaji’ surat Al-Kahfi sepekan sekali, kita secara tetap akan teringat dan diingatkan dengan empat macam fitnah (ujian, tantangan, cobaan) yang terdapat dalam empat Kisah. Makanya disebut ‘akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jumat’, artinya hidup kita akan terbimbing, ada ilmu yang terang menjadi petunjuk jalan dan menjaga kita selama sepekan. Kenapa bentuknya Kisah? Karena memang memori manusia lebih mudah dan akan kuat menangkap ibroh dari Kisah dibanding hanya sekedar penjelasan.

4 Kisah dalam surat Al-Kahfi

Berikut ini kami hadirkan 4 Kisah dalam surat Al-Kahfi dan ibrohnya sebagaimana yang kami kutip dari Voa Islam.

KISAH 1

Kisah Ashabul Kahfi. Kisah ini diawali dari ayat ke-9 sampai ayat ke 26. Yaitu kisah sekumpulan pemuda muslim yang hidup di negeri kafir. Mereka bertekad hijrah untuk mempertahankan agama. Ini dilakukan setelah mereka mendakwahi kaumnya lalu mendapatkan penolakan, tekanan, dan intimidasi.
Mereka menghadapi Fitnah Din (agama) dalam dakwah dan perjuangan dari kaumnya. Lalu Allah melindungi dan mejaga mereka melalui gua dan sinar matahari. Maka saat mereka terbangun dari tidur panjangnya, mereka mendapati kaumnya telah berubah. Negeri tempat tinggal mereka dahulu menjadi negeri yang penduduknya beriman kepada Allah.
Apa yang bisa membuat mereka teguh dan istiqomah sehingga datang pertolongan Allah tanpa mereka duga-duga sebelumnya? Setelah iman, mereka memiliki sahabat atau teman seperjuangan yang shalih. Allah berkahi dakwah mereka dengan keimanan generasi berikutnya.

KISAH 2

Kisah Pemilik dua kebun. Tertera pada ayat 32 – 44. Ini kisah tentang seseorang yang Allah karuniakan kebun. Ia lupa dengan pemberi nikmat. Sehingga dirinya melampaui batas. Ia tanggalkan prinsip-rinsip keimanan dengan celaan dan keraguan. Ia tidak pandai bersyukur kepada nikmat Allah. Ujung dari kekufuran dan kesyirikannya tersebut, hancurlah tanaman dan buah-buahan di kebunnya. Ia diliputi penyesalan mendalam saat tak berguna penyesalannya tersebut.
Kisah ini menerangkan tentang bahaya Fitnah Dunia berupa harta dan anak. Sehingga membuatnya berbangga diri dan terus mengejar dunia untuk memperbanyak kekayaan dan keturunan.
Solusi dari fitnah ini adalah dengan memahami hakikat dunia yang diterangkan diawal surat, “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS. Al-Kahfi: 7)

KISAH 3

Kisah Nabi Musa dan Khidzir. Diawali dari ayat 60 sampai 82. Ini berbicara tentang Fitnah Ilmu(Keunggulan Diri). Yani saat Musa ditanya, “Siapa penduduk bumi yang paling ‘alim (pandai)? Lalu ia jawab, “Saya”. Kemudian Allah mengabarkan kepadanya, di sana ada manusia yang lebih ‘alim dari dirinya.
Kemudian Musa pergi untuk belajar kepadanya. Dan ternyata Nabi Musa benar-benar paham ada hikmah Ilahiyah yang Allah berikan kepada selainnya. Sehingga dirinya kemudian tersadar. Ini merupakan penyakit orang yang berilmu, terlalu bangga dengan ilmunya dan merasa paling ‘alim sedunia. Solusinya, dengan menanamkan sikap tawadhu’ dalam diri.
[Kisah Musa dan Khidzir ini juga memberi pelajaran bahwa Ilmu Allah itu tiada bandingannya. Juga bahwa ada hikmah dibalik segala sesuatu]

KISAH 4

Kisah Dzulqornain. Kisah yang berbicara tentang raja mulia yang menguasai ilmu dan kekuatan ini dimulai dari ayat ke 83 sampai 101. Ia mengelilingi dunia ini dan menebarkan kebaikan di muka bumi. Ia menolong manusia di atasnya. Ia mampu membendung kejahatan Ya’juj dan Ma’juj dengan membangun tembok raksasa (benteng) yg mengurung makhluk perusak tersebut. Kemampuan istimewanya yang lain, Dzulqornain verkomunikasi dan mengorganisi kekuatan kaum yg hampir-hampir mereka tak kuasa memahami perkataan manusia lain dan tak bisa memahamankan mereka dengan tutur katanya.
Kisah ini mengabarkan Fitnah (ujian) Kekuasaan. Sehingga tidak sewenang-wenang, berbuat aniaya, dan membuat kerusakan di muka bumi.
Dzulqornain sosok penguasa yang tidak terfitnah dengan kekuasaan dan kekuatannya. Ia gunakan karunia Allah tersebut untuk mencari akhirat dengan membuat perbaikan di muka bumi, menegakkan agama Allah dan menolong manusia-manusia lemah di atasnya.

Wallahu a’lam

Sultan Muhammad Al-Fatih dan Penaklukan Terbesarnya

Istanbul atau yang dulu dikenal sebagai Konstantinopel, adalah salah satu bandar termasyhur dunia. Bandar ini tercatat dalam tinta emas sejarah Islam khususnya pada masa Kesultanan Usmaniyah, ketika meluaskan wilayah sekaligus melebarkan pengaruh Islam di banyak negara. Bandar ini didirikan tahun 330M oleh Maharaja Bizantium yakni Costantine I. Kedudukannya yang strategis, membuatnya punya tempat istimewa ketika umat Islam memulai pertumbuhan di masa Kekaisaran Bizantium.

Rasulullah SAW juga telah beberapa kali memberikan kabar gembira tentang penguasaan kota ini ke tangan umat Islam seperti dinyatakan oleh Rasulullah pada perang Khandak. Para khalifah dan pemimpin Islam pun selalu berusaha menaklukkan Kostantinopel. Usaha pertama dilancarkan tahun 44 H di zaman Muawiyah bin Abi Sufian RA. Akan tetapi, usaha itu gagal. Upaya yang sama juga dilakukan pada zaman Khilafah Umayah. Di zaman pemerintahan Abbasiyyah, beberapa usaha diteruskan tetapi masih menemui kegagalan termasuk di zaman Khalifah Harun al-Rasyid tahun 190H. Setelah kejatuhan Baghdad tahun 656H, usaha menawan Kostantinopel diteruskan oleh kerajaan-kerajaan kecil di Asia Timur (Anatolia) terutama Kerajaan Seljuk.

Pemimpinnya, Alp Arslan (455-465 H/1063-1072 M) berhasil mengalahkan Kaisar Roma, Dimonos, tahun 463 H/1070 M. Akibatnya sebagian besar wilayah Kekaisaran Roma takluk di bawah pengaruh Islam Seljuk. Awal kurun ke-8 hijrah, Daulah Usmaniyah mengadakan kesepakatan bersama Seljuk. Kerjasama ini memberi nafas baru kepada usaha umat Islam untuk menguasai Konstantinopel. Usaha pertama dibuat di zaman Sultan Yildrim Beyazid saat dia mengepung bandar itu tahun 796 H/1393 M. Peluang yang ada telah digunakan oleh Sultan Beyazid untuk memaksa Kaisar Bizantium menyerahkan Konstantinople secara aman kepada umat Islam. Akan tetapi, usahanya menemui kegagalan karena datangnya bantuan dari Eropa dan serbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Timur Leng.

Selepas Daulah Usmaniyyah mencapai perkembangan yang lebih maju dan terarah, semangat jihad hidup kembali dengan nafas baru. Hasrat dan kesungguhan itu telah mendorong Sultan Murad II (824-863 H/1421-1451 M) untuk meneruskan usaha menaklukkan Kostantinopel. Beberapa usaha berhasil dibuat untuk mengepung kota itu tetapi dalam masa yang sama terjadi pengkhianatan di pihak umat Islam. Kaisar Bizantium menabur benih fitnah dan mengucar-kacirkan barisan tentara Islam. Usaha Sultan Murad II tidak berhasil sampai pada zaman anak beliau, Sultan Muhammad Al-Fatih, sultan ke-7 Daulah Usmaniyah. Semenjak kecil, Sultan Muhammad Al-Fatih telah mencermati usaha ayahnya menaklukkan Kostantinopel. Bahkan beliau mengkaji usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan keinginan yang kuat baginya meneruskan cita-cita umat Islam. Ketika naik tahta pada tahun 855 H/1451 M, dia telah mulai berpikir dan menyusun strategi untuk menawan kota bandar tadi.

Kekuatan Sultan Muhammad Al-Fatih terletak pada ketinggian pribadinya. Sejak kecil, dia dididik secara intensif oleh para ulama terulung di zamannya. Di zaman ayahnya, yaitu Sultan Murad II, Asy-Syeikh Muhammad bin Ismail Al-Kurani telah menjadi murabbi Amir Muhammad (Al-Fatih). Sultan Murad II telah menghantar beberapa orang ulama untuk mengajar anaknya sebelum itu, tetapi tidak diterima oleh Amir Muhammad. Lalu, dia menghantar Asy-Syeikh Al-Kurani dan memberikan kuasa kepadanya untuk memukul Amir Muhammad jika membantah perintah gurunya. Waktu bertemu Amir Muhammad dan menjelaskan tentang hak yang diberikan oleh Sultan, Amir Muhammad tertawa. Dia lalu dipukul oleh Asy-Syeikh Al-Kurani. Peristiwa ini amat berkesan pada diri Amir Muhammad lantas setelah itu dia terus menghafal Alquran dalam waktu yang singkat. Di samping itu, Asy-Syeikh Ak Samsettin (Syamsuddin) merupakan murabbi Sultan Muhammad Al-Fatih yang hakiki. Dia mengajar Amir Muhammad ilmu-ilmu agama seperti Alquran, hadis, fikih, bahasa (Arab, Parsi dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dan sebagainya.

Syeikh Semsettin lantas meyakinkan Amir Muhammad bahwa dia adalah orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW di dalam hadis pembukaan Kostantinopel. Ketika naik takhta, Sultan Muhammad segera menemui Syeikh Semsettin untuk menyiapkan bala tentara untuk penaklukan Konstantinopel. Peperangan itu memakan waktu selama 54 hari. Persiapan pun dilakukan. Sultan berhasil menghimpun sebanyak 250 ribu tentara. Para mujahid lantas diberikan latihan intensif dan selalu diingatkan akan pesan Rasulullah SAW terkait pentingnya Konstantinopel bagi kejayaan Islam. Setelah proses persiapan yang teliti, akhirnya pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih tiba di kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M.

Di hadapan tentaranya, Sultan Al-Fatih lebih dahulu berkhutbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah SWT. Dia juga membacakan ayat-ayat Alquran mengenainya serta hadis Nabi SAW tentang pembukaan kota Konstantinopel. Ini semua memberikan semangat yang tinggi pada bala tentera dan lantas mereka menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada Allah SWT.

Sultan Muhammad Al-Fatih pun melancarkan serangan besar-besaran ke benteng Bizantium di sana. Takbir “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” terus membahana di angkasa Konstantinopel. Pada 27 Mei 1453, Sultan Muhammad Al-Fatih bersama tentaranya berusaha keras membersihkan diri di hadapan Allah SWT. Mereka memperbanyak shalat, doa, dan zikir. Hingga tepat jam 1 pagi hari Selasa 20 Jamadil Awal 857 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453, serangan utama dilancarkan. Para mujahidin diperintahkan supaya meninggikan suara takbir kalimah tauhid sambil menyerang kota. Tentera Usmaniyah akhirnya berhasil menembus kota Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah Usmaniyah di puncak kota. Kesungguhan dan semangat juang yang tinggi di kalangan tentara Al-Fatih, akhirnya berjaya mengantarkan cita-cita mereka. (rol)

Kisah Sultan Murad IV dan ‘Peminum Khamar’


Sultan Murad IV adalah Sultan Turki Utsmani antara tahun 1623 sampai 1640. Di dalam buku hariannya Sultan Murad IV mengisahkan, bahwa suatu malam dia merasakan kekalutan yang sangat, ia ingin tahu apa penyebabnya. Maka ia memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu apa yang dirasakannya.

Sultan berkata kepada kepada kepala pengawal:
“Mari kita keluar sejenak.”
Diantara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blusukan dimalam hari dengan cara menyamar. Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka disebuah lorong yang sangat sempit. Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah.

Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal. Namun setiap orang- orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya.
Sultanpun memanggil mereka, mereka tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan. Mereka bertanya: “Apa yang kau inginkan?.

Sultan menjawab: “Mengapa orang ini meninggal tapi tidak ada satu pun diantara kalian yang mengangkat jenazahnya? Siapa dia? Dimana keluarganya?”
Mereka berkata: “Orang ini Zindiq, suka menenggak minuman keras dan berzina.” Sultan menimpali: “Tapi . . bukankah ia termasuk umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam? Ayo angkat jenazahnya, kita bawa ke rumahnya.”

Mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya.
Melihat suaminya meninggal, sang istripun pun menangis. Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi, tinggallah sang Sultan dan kepala pengawalnya.
Dalam tangisnya sang istri berucap: “Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah.. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang
sholeh” Mendengar ucapan itu Sultan Murad kaget.. Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah sementara orang-orang mengatakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya”.

Sang istri menjawab:
“Sudah kuduga pasti akan begini… Setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras, dia membeli minuman keras dari dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu di bawah ke rumah lalu ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil berkata: “Aku telah meringankan dosa kaum muslimin”. Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata: “Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi.”
Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku: “Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam.”

Orang-orangpun hanya menyaksikannya selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir.
Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku:
“Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, mensholatimu dan menguburkan jenazahmu.” Ia hanya tertawa, dan berkata: “Jangan takut, bila aku mati, aku akan disholati oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Auliya”.

Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata:
“Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, mensholatinya dan menguburkannya.”

Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para ulama, para masyaikh dan seluruh masyarakat.
Wallahu a’lam

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com